Posted on April 16th, 2008 by by Hardjono
Rupanya AS sedang kekurangan pekerja-pekerja IT lagi. Hal ini nampak juga dari usaha Microsoft dan Bill Gates untuk memohon Congress menambah jumlah visa jenis H1B (untuk jenis pekerja).
Sekarang pemerintah AS baru mengeluarkan peraturan baru yang memperpanjang masa Optional Practical Training (OPT) bagi mahasiswa-mahasiswa asing pemegang visa F1. OPT adalah masa kesempatan bekerja di AS bagi mahasiswa asing yang baru lulus universitas atau college di AS.
Dulu masa OPT hanya 1 tahun. Sesudah itu sang mahasiswa harus pulang ke negaranya atau mencari pekerjaan di AS melalui visa jenis lainnya (ex. H1B). Selama masa OPT setahun itu mahasiswa lulusan AS memiliki kesempatan untuk mencari perusahaan yang bersedia men-sponsor visa jenis H1B. Lalu dengan visa H1B ini mahasiswa bisa bekerja sampai 6 tahun (atau lebih) di AS, dan kemudian mengajukan permohonan Green Card.
Karena visa H1B itu sedikit jumlahnya (hanya 65000 lembar tahun ini) perusahaan2 di AS saat ini merasa sulit “mengimpor” tenaga pekerja IT dari luar negeri (biasanya dari India dan China).
Congress AS sendiri enggan memperbanyak jumlah visa H1B, apalagi saat ini masa resesi. Jadi, strategi yang diambil pemerintah AS adalah untuk memperpanjang masa OPT menjadi 29 bulan. Dengan demikian mahasiswa asing lulusan AS memiliki peluang lebih besar untuk bekerja di AS dan sekaligus mengisi kekurangan sumber daya manusia di dunia swasta.
Mungkin jumlah visa H1B yang jatuh ketangan mahasiswa Indonesia dapat memberikan gambaran atau current state mengenai industri IT (ICT) di Indonesia 
Posted on April 15th, 2008 by by Hardjono
CNN melaporkan bahwa ada desakan dari pimpinan partai United Malays National Organization (UMNO) agar generasi muda dalam partai tersebut mulai menulis blog.
Begini kutipan dari interview pimpinan partai dengan Associated Press (AP):
“All candidates must have blogs,” Abdul Rahman told The Associated Press. “If not, they are not qualified to be leaders.”
Saya rasa ini idea yang baik sekali bagi setiap politisi di semua negara. Karena sistim demokrasi semakin hari semakin kompleks, ada baiknya para politisi menulis tentang pandangan mereka.
Juga, saya rasa seorang pemimpin negara harus bisa menulis idea2 dan pikiran2 mereka. Dulu mungkin caranya menulis di koran atau majalah (ex. bagian kolum tertentu). Sekarang dengan media elektronika dan Internet, wajar saja menulis di medium dimana pembaca bisa meninggalkan komentar. Yaitu blog.
Bagaimana dengan politisi Indonesia?
Posted on April 7th, 2008 by by Hardjono
NYT minggu ini membawa artikel menarik mengenai stress menjadi blogger “Professional”, yaitu blogger yang harus menulis terus-terusan demi loyalitas pembaca atau demi duit.
Para blogger di AS memang banyak yang sebenarnya menulis untuk situs yang profesional (seperti NYT.com dan lainnya). Jadi sebenarnya mereka sudah seperti reporter. Cuma mediumnya berbeda (elektronika, bukan koran), mungkin dibayar per-blog dan jumlah tulisan lebih banyak dibanding kolumnis koran tradisional.
Menulis blog terus-terusan ada efeknya dengan kesehatan dan kehidupan sosial sang blogger. Kerja bisa dimana saja, tidak perlu kantor. Rumah menjadi “kantor kedua” (atau pertama). Menulis bisa kapan saja (di bis, starbucks, di kereta, di restoran, dsb). Hilangnya perbedaan antara “work” dan “home” ada dampak pada kesehatan mental. Begini ujar Michael Arrington (TechCrunch):
“I haven’t died yet,” said Michael Arrington, the founder and co-editor of TechCrunch, a popular technology blog. The site has brought in millions in advertising revenue, but there has been a hefty cost. Mr. Arrington says he has gained 30 pounds in the last three years, developed a severe sleeping disorder and turned his home into an office for him and four employees. “At some point, I’ll have a nervous breakdown and be admitted to the hospital, or something else will happen.” “This is not sustainable,” he said.
Masih ingin menjadi blogger? Nanti bisa Karoshi
[Karoshi = death from overwork]
Posted on April 5th, 2008 by by Hardjono
Adalah menarik bahwa saat sekarang ketika Rancangan UU ITE sedang dalam proses menjadi undang-undang, pemerintah RI sudah melaksanakan (exercise) penutupan akses situs YouTube.
Sekali suatu pemerintah memblokir akses ke informasi (atas alasan moralitas atau kesusilaan, keamanan negara, dsb), di masa depan pemerintah itu akan mudah memblokir lagi akses ke informasi politik. Kelak partai politik yang memegang kuasa (sebagai pemerintah) akan mencari alasan macam2 untuk memblokir akses ke informasi dari partai politik lainnya. Ini sudah terbukti berkali-kali dalam sejarah dunia.
It is interesting that while the government of Indonesia is in the process of adopting the UU-ITE (regulations regarding electronic information and technology), this week the same government took the unprecedented steps of blocking access to YouTube.
So what’s next? MySpace.com? Multiply.net? BBC News? CNN? Once down this path, it easily becomes a slippery slope…
Posted on April 4th, 2008 by by Hardjono
Jadi VC sekarang ini tidak mudah. Banyak kompetisi dari VC lainnya. Sedangkan Angel investor (investor individu) sering terjun duluan, memberi dana dini untuk startup yang masih “early stage” atau “pre-funding” stage.
Selama tahun 2007 industri VC berhasil menarik sebanyak $35B dari investor dan menanam sekitar $30B. Dari pertumbuhan bisnis para VC berhasil meraih $53B. Not bad. Makanya bisa petantang-petenteng di Sand Hill Road
(ps. Sand Hill Road adalah jalan di dekat Stanford University tempat kantor para VC di Silicon Valley).
Tahun 2008 ini hidup semakin sukar untuk para VC. Banyak masalahnya. Startup rata2 perlu uang yang lebih sedikit dibanding dulu-dulu. Para Angel juga semakin agresif. Sebagai contoh, pada tahun 2006 para Angel menanamkan sebanyak $26B dalam sekitar 50,000 perusahaan startup. Sebelumnya pada tahun 2003 jumlah investasi Angel hanya sekitar $18B. Jadi para Angel sendiri semakin merasa bahwa mereka tidak butuh VC, dan merasa lebih berani untuk menanam langsung pada startup (tidak usah lewat VC). Juga, dulu-dulu lebih banyak perusahaan startup kecil berhasil diakuisisi sebelum mencapai ronde (round) investasi kedua atau ketiga. Sehingga investor (VC atau Angel) juga mendapat keuntungan yang lebih tinggi. Sekarang ini banyak startup yang sampai ronde 5 atau 6 tetapi belum mencapai “exit strategy”.
Salah satu efek menarik dari resesi di AS adalah meningkatnya jumlah “persediaan” engineer berkualitas tinggi di pasaran pekerjaan. Kalau sebuah perusahaan besar mulai memecat orang dari ranking/tingkatan engineering, biasanya para engineer kualitas tinggi akan minggat atau exit duluan. Seperti menurut pepatah: (clever) rats are the first to abandon a sinking ship. Selagi kapal tenggelam, yang pintar kabur duluan. Banyak engineer2 ini kemudian membuka startup sendiri.
Sumber uang juga sekarang berkelebihan (dari VC atau Angel). Enak untuk para engineer, tetapi semakin sulit untuk VC yang tier-2 atau tier-3. Kebanyakan “web-based” startup (i.e software) tidak perlu duit banyak, mungkin $500K saja sudah cukup. Sehingga lebih menguntungkan bagi engineer untuk mengambil duit dari Angel daripada VC. Ini karena Angel (orang individu) biasanya lebih fleksibel, duit adalah milik sendiri, tidak banyak overhead (ex. tidak ada ongkos operasi spt kantor/perusahaan VC) dan tidak rewel ikut micro-managing perusahaan startup.
Yes, VCs today have it so tough 