Affordable Software vs. Open Source di Indonesia

Pak Denny Depok menayangkan blog yang menarik sekali tentang Open Source di Indonesia. Membaca tulisan beliau yang cukup panjang tersebut, saya sendiri jadi ikut memikirkan lagi. Beberapa pertanyaan muncul juga:

….landasan gerakan opensource indonesia dimulai dari titik awal yang salah yaitu dimulai dari paradigma software gratis. Akhirnya semua kegiatan yang berhubungan dengan opensource di indonesia juga memiliki arah yang salah….

Ini poin yang valid sekali dari Bapak pemilik perushaan software. Bukannya tujuan sebenarnya untuk Indonesia adalah Affordable Software? Yaitu software murah yang bisa di jangkau oleh orang biasa (ie. bukan software gratis).

Bagaimana halnya dengan industri software lokal di Indonesia. Apakah para developer and entrepeneur di Indonesia bisa menghasilkan business model berbasis open source? Bagaimana dengan kesiapan industri tersebut untuk menerima “pesanan” dari luar negeri (out-sourcing)? Apa bisa membuat project open source untuk platform Windows atau Apple? (ie. source code dari aplikasi di sediakan berbasis GPL). If not, why not?

Kok rasanya masih meraba-raba dalam kegelapan (so to speak).  Bagi saya yang utama adalah untuk membangun industri software dalam negeri. Mau Linux-based boleh, mau Windows-based boleh. Saya rasa urgensi masalah ini lebih penting dari pada hal pertentangan ideologis antara open-source dan propietary.

Indonesia cannot afford being bogged down by software-ideological differences. It needs to develop its local software industry to the point that it can obtain a (increasing) portion of the global software outsourcing market.

3 People have left comments on this post



» jenggo said: { Sep 24, 2008 - 02:09:10 }

Iya sama, waktu baca kemarin juga sempat tersenyum malu..
Karena selama ini saya menyebarkan “udaah pake linux aja, windoz tu udah bayar sering kena virus lagi”, “ngapain sih repot2 bayar kalo mo make komputer? pake yang gratisan aja deeeh”
Saya lupa dengan esensi open source yang bukan sebagai saingan dari “non-open source”, tapi sebagai pilihan..

» sufehmi said: { Sep 24, 2008 - 10:09:38 }

Bagi saya yang utama adalah untuk membangun industri software dalam negeri. Mau Linux-based boleh, mau Windows-based boleh. Saya rasa urgensi masalah ini lebih penting dari pada hal pertentangan ideologis

Prinsip itu tetap perlu, yaitu agar pada saat prosesnya tidak menyimpang. :-)

Contoh: misal kita pasang statement : meningkatkan pemasukan negara.

Kelihatan bagus kan?

Tapi karena tidak ada prinsip yang menjadi rambu-rambunya, maka pada saat implementasi jadi bisa kacau balau. Misal: dengan melanggar HAM, merampas hak rakyat, membabat hutan lindung, dst.

Anyway, tapi untuk topik ini saya cenderung setuju. Proprietary & open source ada tempatnya masing-masing. Ada pasarnya masing-masing. Tidak perlu kita membuang-buang waktu & energi, sibuk mentabrakkan antara keduanya.