FOSS sebagai Ideologi (Infrastruktur Enterprise)
Saya sering bingung kalau membaca posting dalam milis Telematika Indonesia (di Yahoo Groups). Apalagi belakangan ini, sewaktu Bill Gates mampir ke Indonesia di permulaan bulan Mei.
Banyak penulis di milis Telematika rasanya memegang pandangan FOSS (Free Open Source Software) sampai titik dimana FOSS bagai menjadi suatu “ideologi”, tanpa memandang realitas kebutuhan bisnis2 yang memerlukan software dan hardware. Mungkin ada baiknya ideolog FOSS di tanah air mempelajari lisensi GPL (v2) dengan seksama dan cari bantuan ahli hukum. Get legal help in understanding GPLv2.
Begini beberapa butir pengalaman saya sendiri di dunia Enterprise software:
- Business purpose & needs: Kenyataannya, suatu perusahaan/bisnis (yang menggunakan produk IT/CIT) bertujuan untuk melaksanakan bisnis mereka. Bisnis2 tidak terlalu peduli apa Windows, Linux, MacOS, dsb. Pokoknya mendukung jalannya bisnis sehari-hari. Mudah dipakai, lumayan reliable, ada support kalau crash, dsb. Kalau memang software/hardware mahal, yach itu “cost of doing business, pass it on”. They need 99.99% uptime of everything (not just client-side OS).
- Enterprise Infrastructure vs. Consumer computing: Kenyataan lainnya, di dunia Enterprise (Fortune 500 dan SMB), yang menjadi masalah bukan saja Client-side platform (ie. Windows OS) tetapi juga Infrastruktur Enterprise (IE). Sistim2 infrastruktur it termasuk Directory Services, Email Server, Authentication Server, Access Control Server, Remote Access (VPN) server, Patch Server, dsb. dsb. Jadi, Enterprise computing is not just about client-side OS.
- Microsoft Infrastructure: Saya bukan employee Microsoft dan tidak punya saham Microsoft. Enggak mengibarkan bendera MSFT. Tapi kenyataannya dalam dunia Enterprise Infrastruktur, hampir 60% s/d 70% market di dominasi Microsoft Infrastructure (ex. Active Directory, Kerberos, KDC, RMS, SMS/MOM, dsb). Why? Karena MSFT sudah lama ada dan integrasi komponen infrastruktur ke Windows-client lumayan baik. Yach pasti ada bugs, tetapi sistimnya lumayan mulus dan well-documented. Don’t expect perfection from other people’s product if you cannot provide perfection yourself
- Software market for ISV: Bagi Independent Software Vendor atau ISVĀ (baca: perusahaan software kecil), agar bisa cari duit ISV harus fokus pada market Enterprise Software (yang infrastrukturnya didominasi MSFT). Ini kenyataan. Ubuntu/Canonical sendiri tidak memberikan produk Enterprise secara gratis/OSS. (Harus bayar lho).
Jadi, saya setuju penggunaan produk FOSS untuk negara berkembang seperti Indonesia. Banyak kesempatan untuk membangun produk2 baru dasar-FOSS untuk kebutuhan negera. Tetapi jangan menjadikan FOSS = Anti-Propietary = Anti-Microsoft sebab banyak perusahaan lain yang juga menjual produk propietary (ex. Apple, Cisco, Oracle, SAP, Nokia, Sony, Intel, AMD, HP, dsb. dsb).
Kalau memang anti-propietary, jangan pakai komputer sebab Chipset dan Processor adalah propietary. Jangan pakai iPod atau handphone, sebab isinya juga propietary ![]()



11 People have left comments on this post
setuju mas,
memang untung enterprise biasanya mereka gak mau repot
pokoknya jalan dengan lancar
walaupun terkadang untuk support-nya harus berbayar
salam kenal
Ono rupo, ono rego………..
pemakaian Opensource sekarang hanya dikalangan yang melek IT, Masyarakat luas masih belum bisa menerima karena mereka sudah terbiasa hidup enak dengan Windows.
Mari satukan tenaga untuk Berantas Buta IT dengan Opensource.
Kalau usulan saya sih ada badan koordinasi bersama untuk mencapai targetan Berantas Buta It dengan Opensource.
Dulu saya pernah menulis rants sejenis pak : http://affanzbasalamah.wordpress.com/2007/02/18/rants-on-linux-movements-in-indonesia/
Welcome to the club! malesbanget.com kan lihat opensource fanboi yang kehilangan objektivitasnya
Pak Hadjono dan kawan2 Yth,
Saya setuju dengan pendapat anda, kalau urusan Enterprise Infrastructure, yang penting sistemnya jalan lancar dan reliability 99.9999%. Di Enterprise Infrastructure saat ini juga sudah banyak memakai Linux dan Unix, seperti mayoritas untuk Server Internet pakai Linux yang Open Source.
Sekarang kalau kita bicara Client-side, pilih mana, pakai MS Office atau Open Office dan Mulitimedia Office yang Open Source (bisa didownload dari Plata Software, Spanyol gratis) yang berjalan lancar baik di MS Windows mapun Linux.
Diperkirakan dalam 1-2 tahun mendatang, Aplikasi Open Office/Multimedia Office untuk bisnis akan mendominasi pasar. Pengguna MS Office akan terkendala (disadvantaged), sebab hanya bisa melihat file2 berbasis MS Windows, sedangkan pengguna Open Office atau Multimedia Office mampu menyimpan dan membaca file2 ODF maupun MS Windows.
Di aplikasi Browser, Firefox sudah mulai mengabil alih pasar MS Internet Exlporer.
Jangan lupa mengunjungi IGOS Summit-II di JaCC Jakarta, tanggal 27-28 Mei 2008, siapa tahu pandangan anda akan berubah.
Mari kita tunggu hari dimana Open Source akan mendominasi pasar software dunia.
Wassalam,
S Roestam
Tapi, studi menunjukkan bahwa penggunaan FOSS memiliki kecendrungan tren positif. Artinya, semakin banyak dan banyak lagi perusahaan di dunia pindah ke solusi FOSS. Apalagi, EU mensyaratkan proyek-proyek IT terbaru harus menggunakan open standard (which is why M$ berjuang mati-matian memperjuangkan OOXML).
Berbicara FOSS bukan berbicara tentang iklim bisnis saat ini, tetapi beberapa tahun mendatang yang akan didominasi dengan produk opensource. Sekali lagi, masalahnya akan kembali kepada *kesiapan* SDM IT Indonesia. Pasar bebas sebentar lagi.
Lagipula, mengenai item nomor 4, itu salah. Yang Cannonical berikan adalah dukungan support, tetapi mereka menjamin perangkat lunak mereka tetap 100% FREE. Atau seperti kata Mark Shuttleworth sewaktu ke Indonesia dulu: “The software is free, but the support is ours.”
Hehehe,bhubung saya blm pnah merasakan lingkungan enterprise, pendapat
saya mgk bs dkategorikan sebagai fanboi:p. Sebagai fanboi saya sadar
bahwa hanya dan hanya keyakinan yg teguhlah yg mampu mengantar manusia
mendarat ke bulan. Di sisi lain, saya jg tahu bahwa fanatisme yg
membabi buta hanya akan mengukuhkan status saya sebagai penghuni
tempurung terbalik.
Nah, sebagai fanboi saya trs terang kadang bingung ttg kapan dan
dimana masing2 perspektif harus dterapkan.
Jadi mgk kedua perspektif tk ada yang salah. Tinggal menengok goal
masing-masing
Oh ya, sebagai calon CEO (amiin :p), saya tdk setuju bahwa satu2nya jalan
bagi ISV untuk maju adalah dg jalan (head-to-head) berebut kue
enterprise. Rasa-rasana itu lebih mirip aksi kamikaze :p
PS:
Seharusnya komentar ini sudah tersubmit beberapa waktu lalu via Opera Mini. Karena malas mengetik lagi, jadinya saya paste versi SMS-nya di sini
Hmm, kayaknya ini balik lagi ke urusan finansial dan tingkat kenyamanan yang pengen didapet. Bisa milih sih sebenarnya make FOSS dan ditambah alokasi budget untuk support atau make solusi yang udah well-integrated ( ORACLE, Apple, MS, dll ), tambah lagi biaya support kalo emang mau. Sebenarnya kan bisa diitung untung ruginya, dan tentu juga balik lagi ngeliat kondisi diri masing-masing, mau pake solusi mana yang cocok.
Balik lagi ke FOSS, dulu pernah ada partner yang ngebet banget semua pengen dibikin pake FOSS, tapi dia sendiri kurang paham inti masalahnya. Kita kesampingkan soal “cool and look geeky” dulu deh. Blum lagi interkoneksi dengan hal-hal lain kalo ada future expansion, ya jadinya berasa omong doang. Ga yakin juga apa dia udah paham isinya GPL ( pusing juga ternyata baca ini, dan sampe sekarang masih belum ngeh 100% ).
Buat saya mah yang penting “all the job done within constraints”. Solusi bisa diatur, asal nurut pakem itu dan masih sesuai koridor hukum.
Buat S Roestam:
“Di Enterprise Infrastructure saat ini juga sudah banyak memakai Linux dan Unix, seperti mayoritas untuk Server Internet pakai Linux yang Open Source.”
Kalimat itu maksudnya gimana ya?
cuma nitpicking: yang benar itu proprietary, bukan propietary. lalu problem dunia bisnis di indonesia itu yang terlihat adalah pakai software tapi ilegal. nggak masalah kalau pakai microsoft selama itu legal, tapi kenyataannya banyak yang tidak begitu. makanya pada lari ke yang gratisan, atau ya kalau ada duitnya, merogoh kocek dalam-dalam buat bayar.
Permisi.. cuma mau ngasih pendapat..:) sudah telat y?
Saya rasa ini bukan cuma masalah kelancaran bisnis tanpa membertimbangkan keadaan lain seperti kebiasaan mengkonsumsi suatu produk yang mengakibatkan ketergantungan..
Dan saya rasa FOSS bukan sebuah ideologi yang salah, justru menurut saya butuh sebuah pemikiran yang keras untuk memahami kenapa kita sebaiknya menggunakan FOSS (saya sendiri sudah berpikir keras, ini bukan hanya masalah gratis ato tidak).. salam kenal..
1 Trackback(s)