Why I’m feeling Blue: Blu-Ray atau HD-DVD
Pada akhir tahun di AS ini satu topik yang sering muncul di media adalah tingkat pembelian hardware Hi Definition (HiDef) player Blu-Ray Disc (BD) and HD-DVD. Yang menjadi isu adalah tingkat adopsi kedua teknologi ini pada saat “sale season” ini, dimana harga-harga hardware di diskon besar sekali. Sebagai contoh, toko retail besar Circuit City dan Best Buy menjual player seharga kira-kira $250. Harga ini lumayan murah sebab ada player sudah di diskon 50%. Padahal teknologi ini baru dipasarkan kira-kira setahun lebih.
Yang menjadi masalah juga adalah kekacauan di pikiran pihak konsumen (customer confusion). Kebanyakan konsumen di AS masih bingung mengenai Televisi HiDef: Plasma atau LCD, 1080i vs 1080p, upconvert ke 1080i, dsbnya. Terus sekarang ditambah lagi istilah-istilah seperti Blu-Ray, HD-DVD, Standard DVD, Full HD, dsbnya. No wonder
Ada data-data dari “pertempuran format” Blu-Ray vs HD-DVD ini:
- Di Eropa jumlah Blu-Ray disk yang terjual baru saja melewati 1 juta disk, yaitu 73% jumlah total disk film/movie HiDef. Yang 27% lainnya adalah HD-DVD.
- Kalau dihitung jumlah Game Disc yang terjual, Blu-Ray sudah laku 21 juta disk. Ini disebabkan karena game console Playstation 3 menggunakan format Blu-Ray.
- Di AS jumlah disk HiDef yang terjual (BD dan HD-DVD) adalah 2% dari total film/movie disk. Jadi 98% di AS masih menggunakan Standard DVD yang lama/umum saat ini.
- Di AS jumlah HiDef player terjual adalah Blu-Ray 2.7 juta unit dan HD-DVD 750,000 unit. Angka Blu-Ray ini termasuk kira-kira 2 juta unit Playstation3.
Kalau begini sich tunggu-tunggu saja deh. Andaikan saja player2 yang dual format (seperti Samsung dan LG) bisa semurah single-format player, mungkin saja lebih banyak orang yang membeli.



