Sektor IT di Indonesia dari pandangan BSA
Minggu lalu ada tayangan muncul dalam milis Telematika (di Yahoo Groups) mengenai artikel Kompas (8 Oktober 2007). Topik artikel itu mencangkup suatu laporan yang di luncurkan oleh organisasi Business Software Alliance (BSA).
BSA merupakan konsorsium industri software yang memiliki berbagai fokus. Diantaranya adalah untuk mengurangi tingkat pembajakan software. Laporan tersebut berjudul The means to compete: Benchmarking IT industry competitiveness. Laporan itu ditulis oleh organisasi Economist Intelligence Unit (dari majalah The Economist), dan penulisannya disponsori oleh BSA. EIU memiliki indeks kompetitif (competitivesness index) bagi industri IT. Indonesia menempati urutan ke-57 (dari 64 negara). Di antara negara Asia-Pacific mendapat urutan 14 dari 16.
Tujuan laporan itu adalah untuk mengukur daya kompetitif industri IT di 64 negara, termasuk Indonesia. Selain itu laporan tersebut mencakup interview 20 orang eksekutif senior dunia IT untuk menelaah pendapat mereka mengenai daya kompetitif IT.
IMHO, laporan tersebut mengandung banyak mengandung poin-poin dan insight menarik mengenai masalah perkembangan industri IT di negara-negara berkembang. Sehingga dari pada meributkan posisi Indonesia dalam urutan indeks kompetitif, akan lebih berguna untuk mempelajari laporan tersebut dengan seksama. Berikut saya lampirkan beberapa poin dari laporan tersebut.
- Traditional agrarian economies starting from a blank sheet of paper may also be able to leapfrog stages of IT development. They’re able to make purchases of solutions without being hamstrung by legacy infrastructure and move quite rapidly on the technology curve.
- A skilled workforce is at the heart of any country’s IT sector. Without skilled employees, technology firms cannot grow and flourish, and there is a strong relationship between the strength of a country’s higher education system and that of its technology sector.
- An important prerequisite for the competitiveness of a country’s IT sector is a stable and open business environment. Aside from political and macroeconomic stability, this means an entrenched government commitment to wide-ranging competition, protection of privat property, the fostering of crossborder trade and inward foreign investment, and transparent and consistent regulation, among other factors.
- Skills requirements are changing radically. Talented IT employees are already in short supply everywhere, but the situation will get tougher, as the nature of skills needed is changing.
Banyak lagi poin-poin baik dari laporan tersebut. Banyak gunanya kalau di adakan seluruhnya dalam Bahasa Indonesia, dan di sebarkan gratis ke berbagai aparat pemerintah dan swasta yang berhubungan dengan IT, Telematika, Telekom dan IPtek umumnya di Indonesia.



2 People have left comments on this post
Dikutip dari Kompas tekno, “India yang orang-orangnya banyak menjadi direksi perusahaan IT di mana-mana termasuk di sini, menduduki peringkat ke-46, sementara China duduk di ranking 49. Posisi mereka dinilai kurang baik karena masih lemahnya proteksi terhadap properti intelektual, kepemilikan PC, dan investasi riset. Infrastruktur IT di kedua negara tersebut juga terbatas untuk area perkotaan saja. Tenaga kerja asal India dan China memang menawarkan banyak keuntungan, tapi di masa depan, mereka diprediksi bakal menghadapi kompetisi upah dari negara lain seperti Vietnam, Brazil, dan Rusia.”
Bagi saya, lemahnya proteksi Intellectual Property dan kecenderungan nasionalistik parokial di antara mayoritas Indonesians (dan pemerintah) merupakan dua hal yang paling “mengganggu” dalam perkembangan IT dan teknologi serta produk2 intellectual property (derivatives dari IT hard core). Apabila kedua hal tersebut diperbaiki dari segi legalitas dan keterbukaan mindset, maka bangsa Indonesia bisa lebih mendapatkan tempat di dunia internasional.
Di masa sekarang ini, sudah bukan saatnya lagi untuk memegang “nasionalisme parokial” dan sudah saatnya untuk menerima bahwa “brain drain” sesungguhnya adalah “brain gain.” Forward thinking seperti ini memberikan landasan yang lebih sincere untuk berkarya bagi kebaikan semua umat manusia yang akan trickled down kepada komunitas Indonesia di mana pun berada.
Just my two cents,
Jennie
Terima kasih Jennie. Yes, we have a long ways to go…