OLPC: pengharapan harus sesuai

Minggu ini harian New York Times (NYT) menayangkan artikel review dari laptop XO dari gerakan One Laptop Per Child (OLPC). Seperti yang saya tulis dalam blog sebelumnya, OLPC merupakan proyek bimbingan Prof. Negroponte dari MIT.

Ada beberapa butir menarik dari artikel tersebut yang saya setujui sekali:

  • Jangan dibandingkan dengan laptop seharga $1000 ke atas. OLPC ini memang laptop super-murah. Tidak ada CD/DVD drive. Tidak ada hard disk. Layarnya juga kecil (hanya 7.5 in).
  • Tujuan laptop OLPC untuk digunakan dalam lingkungan yang kurang memiliki infrastruktur listrik. Termasuk di sini adalah benua Arika dan negara2 Dunia Ketiga. Jadi daya tahan baterainya luar biasa. Bisa di re-charge 2000 kali (sedangkan baterai laptop umumnya hanya 500 kali). Power nya hanya 2 watt (dibanding 60 watt pada laptop biasa).

Saya sering sekali membaca kritik mengenai konsep dan implementasi laptop OLPC ini. Saya rasa pihak pengkritik kurang mengerti tentang kondisi fisik negara-negara yang di tujukan oleh OLPC. Anak2 di kota-kota besar di Indonesia (yang listriknya banyak) mungkin tidak perlu OLPC seharga $200 ini. Bayak laptop lainnya seharga $300 - $400 yang lebih dahsyat, tapi perlu listrik stabil.

Sedikit kutipan: Clearly, the XO’s mission has sailed over these people’s heads like a Boeing 747  :)