Software as a Service (SAAS): konsep yang masih lemah

Akhir Minggu lalu terjadi bencana atas server2 Window Genuine Advantage (WGA) milik Microsoft.

Program WGA adalah usaha Microsoft untuk mengatasi problema bajakan software Windows. Bagi instalasi Windows yang asli, software windows kemudian akan melakukan aktivasi dan mengecek status instalasi. Kalau ada update baru, WGA kemudian akan melakukan download dan update pada instalasi itu.

Akhir Minggu lalu, karena server WGA crash beberapa ribu orang pemakai Windows (asli) di seluruh dunia mengalami kelumpuhan Windows pada komputer mereka. Rupanya instalasi Windows mereka mengalami automatic disable karena kesalahan WGA. Crash ini mulai Jumat malam sampai Sabtu pagi (selama 19 jam).

Kejadian ini menunjukkan problema fundamental dengan konsep Software as a Service (SAAS). Dalam SAAS, sebuah Application Service Provider (ASP) memberikan jasa penggunaan software yang dijalankan oleh bisnis ASP. Pengguna atau User menggunakan software melalui koneksi Internet ke situs ASP itu. Dengan kata lain, si User “menyewa” software dan menyimpan file dan data di akun/situs milik ASP. Belakangan ini SAAS digembar-gembor oleh Google melalui servis Google Docs dan juga oleh Sun dalam konsep Thin Client computing.

Problema dasar SAAS adalah sbb:

  • Data availability: Data anda ada di situs ASP. Kalau ASP crash atau koneksi Internet hilang, tidak akses ke data. Argumentasi bahwa data seharusnya di backup di PC lokal sebenarnya suatu kontradiksi. Kalau data kita sudah ada di PC kita, buat apa kit upload lagi ke situs ASP.
  • Service availability: Kalau server2 milik ASP sedang kacau (crash), kita tidak bisa menggunakan software. Jadi buat apa menyewa software yang tidak bisa dipakai.
  • Security & Privacy: Kebanyakan ASP tidak memberikan jaminan kalau data anda hilang. Kalau data ini merupakan data korporat yang sensitif, bisa-bisa di curi oleh pihak lawan/kompetisi.

Agak susah juga untuk tidak skeptis. Harga PC rata2 sudah menurun sekali (sebentar lagi dibawah $200). Harga storage (ex. hard-disk) juga jatuh. Sekarang ini 1Gbyte sudah dibawah $1. Harga processor/CPU juga mulai turun (ex. Intel dual-core dan Quad-core).

Jadi, mungkin problem utama adalah software is complex: software itu memang rumit. Proses penciptaan/development software kwalitas baik itu sulit. Maintenance software itu repot. Konsep SAAS menjanjikan pembeli akan menghilangkan masalah2 software, tetapi menciptakan problema2 lainnya. Mungkin ada jalan pertengahan.

One Person has left comments on this post



» ramdhani said: { Jun 19, 2008 - 04:06:28 }

salam kenal mas
abis baca2 analisa gartner nih (http://www.gartner.com/it/page.jsp?id=593207) yang menyatakan SaaS akan populer tahun2 kedepan. klo bicara implementasi SaaS di indonesia ketiga problem akan muncul jg apalagi klo bicara koneksi internet yg masih mahal dan lambat di bandingkan negara maju lainnya. Tapi seiring dengan turunnya tarif internet dan bandwidth yg makin besar yg ditunjukkan speedy dgn upgrade ke 1 Mbps keliataannya konsep SaaS untuk diterapkan di indonesia makin memungkinkan. Tapi saya penasaran dengan salesforce.com yang disebut-sebut sebagai leader dalam implementasi SaaS, apakah masalah2 itu muncul dan antisipasi nya gmn ? klo 3 problem yg diungkap di atas sering muncul mestinya salesforce.com ga mungkin exist sampe sekarang kan mas ?