Perkembangan High Tech Valley (BHTV)

Hari ini saya membaca-baca milis Bandung High Tech Valley (BHTV), dan ikut nimbrung sedikit. BHTV ini idea penting bagi bangsa Indonesia. Pak Budi Rahardjo dan Pak Armein Langi sudah lama membimbing perkembangan ini.

Ada beberapa poin yang mungkin lebih pantas saya ungkapkan di blog, karena bersifat lebih umum. Yang sering saya perhatikan (di blog-blog TI dan milis lainnya) adalah sikap ketergantungan kepada pemerintah (nb. mungkin ini sisa-sisa pengaruh Orde Baru :)  ).  ”Pemerintah harus ini, harus itu”, dsb. Padahal untuk membibiti daerah Hi-Tech Valley (HTV) harus berasal dari bawah (grass roots). Tidak usah tunggu-tunggu pemerintah. Kalau produk bagus sehingga laku di pasaran swasta/korporat, pasti laku juga di pasaran pemerintah.

Contoh kesukaan saya adalah daerah Bangalore di India. Dulu akhir tahun 1970an belum ada industri software atau call-center sama sekali. Perusahaan InfoSys (yang terkenal itu) baru dimulai tahun 1981 oleh tujuh orang. Uang investmentnya juga kalau tidak salah hanya sekitar $250. Sekarang InfoSys sudah perusahaan yang memiliki market-cap $30 Billion dan 75,000 pekerja di seluruh dunia. Kenapa mereka bisa, apa dasar2 suksesnya?

Kalau dilihat dari segi ekonomi dan segi kebutuhan teknologi korporat, ada beberapa pertanyaan fundamental mengenai jalan perkembangan Hi-Tech di Indonesia:

  • Kualitas: apakah para programmer/coder dan development manajer di Indonesia bisa bertanding secara kualitas dengan yang dari India, China dan Eropa Timur?  Pada dasarnya ini hal supply-demand. Pihak yang perlu out-sourcing (ex. perusahaan dari luar), akan menimbang dari segi duit dan kualitas (bukan asal negara/nasional dari coder).

Saya sering sekali dapat spam di email dan voice-mail dari perusahaan India atau China, menawarkan out-sourcing kontrak. Tidak pernah denger dari perusahaan Indonesia. (Mohon jangan kirim saya spam :)  ).

  • Open-Source vs Windows: Saya sering lihat bahwa diskusi perlunya perkembangan High Tech Valley (HTV) di hubung-hubungkan dengan Open Source OSS (ex. Linux). Agak aneh, sebab pasaran untuk Windows jauh lebih besar daripada Linux. Bisa disebut sebenarnya tidak ada banyak demand untuk open source saat ini dalam dunia korporat. Programmer yang jago Windows Internal lebih di cari-cari dari pada yang jago Linux Kernel (IMHO).

Kalau memang serius ingin menjadi kontraktor out-sourcing, mungkin lebih baik menyelami lebih dalam Vista Internals dan Application dev (dari pada open source).

  • Lokasi development team: dalam dunia cyberspace sekarang ini, lokasi pekerja tidak begitu penting. Kalau development team tersebar di India, Irlandia, dan Hungaria, yach OK saja. Justru itu untungnya. Malah pihak developer mungkin tidak usah bayar pajak (apa lagi kalau dibayar langsung ke akun di bank atau credit-card/paypal).

Contoh favorit saya adalah perusahaan kecil di Selandia Baru, namanya SnapperMail. SnapperMail menjual software email POP3 Client untuk PDA Treo seri 600. Di AS SnapperMail laku keras, karena POP3 Client yang gratis dari Treo jelek sekali. Sederhana lho produknya SnapperMail, hanya POP3 Client untuk Palm-OS (bukan full OS seperti Windows). Bermula hanya 6 orang, sekarang hanya 9 orang (plus orang bisnis development). Software dijual/download lewat Internet ($60 per PDA). Pembayaran langsung pakai kartu kredit ke Selandia Baru. Developer tidak pernah ke luar negeri.

  • Penggunaan (terminologi) Bahasa Inggris: Sering sekali saya melihat diskusi di blog atau maling-list yang merendahkan penggunaan Bhs Inggris. Seakan-akan tidak nasionalistis kalau pakai Bhs Inggris. Banyak terminologi di terjemahkan ke Bhs Indonesia, padahal ada kata-kata yang sudah internasional (ex. “operating system”, “kernel”, “network”). Orang Jepang saja bilang “sofutowea” ソフトウェア (katakana) untuk kata software. Kenapa harus bikin pusing dengan kata “perangkat”?

Bandingkan lagi dengan India. Rekan2 saya orang India bisa Bhs Inggris, Hindi dan mungkin satu lagi bhs daerah lagi (3 bahasa). Mereka menggunakan terminologi Bhs Inggris dalam hal teknis. Di rumah pakai Bhs Hindi.  Software itu disebut “software”. Kalau denger mereka ngobrol diantara rekan2 sendiri, sering kalimatnya campur Hindi-Inggris. Yah OK saja lah. Dengan adanya penggunaan Bhs Inggris sehari-hari, negara India siap menerima kontrak out-sourcing Call-Center (menjawab pertanyaan customer service di telepon) dari AS dan Eropa. Demikian juga orang Filipina dan Singapura. Padahal banyak pekerja Call Center di India tidak pernah sampai ke universitas (paling SMP atau SMA).

  • HTV di Indonesia: Saya rasa HTV bisa di mana saja. Bandung bisa, Jakarta bisa, dan Bali juga bisa. Mungkin kalau ada investor luar, mereka lebih senang main ke Bali daripada ke Bandung :)  IMHO sarana paling penting adalah akses ke Internet.

Memang ada baiknya HTV itu dekat dengan sumber mahasiswa universitas. Bandung memang banyak universitasnya. Tapi ini bukan kondisi utama. Silicon Valley sendiri sedikit universitasnya dibandingkan kota Boston di pantai Timur negara AS. Memang Boston sering juga di sebut sebagai Silicon Valley II (Rt495 Corridor).

[NB. Terima kasih untuk Ephi yang menolong dgn Katakana]

7 People have left comments on this post



» kunilkuda said: { Aug 2, 2007 - 01:08:23 }

Saya yang posting thread itu =)

Iya benar kl berharap pada pemerintah seperti bergantung pada akar lapuk. Karena itu saya menulis agar pemerintah keluar dari game ini, supaya perusahaan di BHTV bisa bermain secara fair, mengikuti selera pasar (bukan selera pemerintah).

Quote :
“Kualitas: apakah programmer/coder dan development manajer di Indonesia bisa bertanding secara kualitas dengan yang dari India, China dan Eropa Timur?”

Saya dapat sense yang sama kl tukang IT kita sebenarnya banyak, tapi kualitasnya masih rendah. Karena itu, produk yang kita hasilkan

Pertanyaannya : gimana cara meningkatkan kualitas tukang IT kita ?

» Jennie said: { Aug 2, 2007 - 07:08:22 }

Soal penggunaan bahasa Inggris, saya setuju sekali. English is the most widely used language in the world. Nationalism should not be judged by the language one uses. It should be judged by what one has done for one’s country, regardless of what it has done (or hasn’t done) to one.

Saya rasa ini termasuk ke dalam “kultur inferior” Indonesia, yang mau tidak mau memang begitu kenyataannya jika kita bandingkan dengan bangsa2 lain yang tidak “terintimidasi” dengan penggunaan bahasa asing apa pun. Semua kultur dan bangsa (mengutip para multiculturalists) adalah sejajar, sehingga jika seseorang menggunakan bahasa Inggris bukan berarti orang itu “sok tinggi.”

Just my two cents,

Jennie S. Bev

» Danny said: { Aug 3, 2007 - 03:08:07 }

Hm. mengenai lokasi mungkin untuk industri software lokasi bisa dimana2 karena data2 bisa ditransfer, tapi banyak industri high tech perlu cluster chain yg lengkap juga baru bisa tumbuh. Saya lihat di Taiwan Science Park, industri semiconductornya luar biasa kuatnya karena industriy chainnya mulai dari ic design sampai foundrynya sampai end productnya lengkap.
Hal yg lain saya liat unsur pendidikan luar biasa pentingnya, di Indonesia biaya pendidikan masih luar biasa mahalnya dan mutunya juga kurang. Kalo dari sumber daya manusia masih kurang pasti susah untuk bersaing di high tech.

» Hardjono said: { Aug 3, 2007 - 11:08:42 }

@Kunilkuda:Pak, meningkatkan kualitas IT dan developer memang makan waktu lama, tapi perlu fokus ke market utama (pasaran korporate/enterprise). Duitnya ada di pasaran itu, jadi melatih diri membangun produk untuk pasaran tsb (yang saat ini didominasi MSFT).

@Jennie: Thanks for the comments. I’m trying to encourage IT folks in Indonesia to embrace technical terms in English because those are the same terms that they will meet when competing in the international IT/dev oursourcing market. I believe IT/dev oursourcing is perhaps the best chance of bootstrapping the Indonesian IT industry (and not waiting for government grants or policies).

@Danny: Pak Danny, kalau industri hardware memang perlu lokasi baik. Kalau software lebih fleksibel. Mungkin bagi developer Indonesia yang penting itu dekat dengan daerah yang harga propertinya nggak terlalu mahal. Kan harus beli rumah, berkeluarga, dsb.

» Jennie said: { Aug 4, 2007 - 06:08:18 }

Hardjono, I’m so happy that I got myself an iPhone. :) Just sharing my enthusiasm. :d

» Domba Garut! said: { Aug 6, 2007 - 08:08:10 }

Unleashing the potentials of our IT individuals is through active collaborations within the country between groups of individuals and as well as making the alliance with industry players and leading communities. plus encouraging governments to provide incentives to the local IT industries and inspiring individuals..

Another things to add, keep the enthusiasm to share the knowledge towards others back home, and empower others to become as capable as you are. ;-)

Sharing is caring..

» Syam Jr said: { Aug 27, 2007 - 04:08:47 }

Saya tidak paham IT tapi tertarik dengan artikel anda. Sependapat dengan penggunaan English dan tidak mencoba istilah dalam bahasa Indonesia untuk terminologi IT. Nasionalisme saya tidak bangkrut hanya karena hal itu