Kesan-kesan WordCamp 2007
Â
WordCamp 2007 baru berakhir Minggu sore ini di San Francisco. Acara ini dihadiri sekitar 150 orang dari berbagai latar belakang dan profesi. Meskipun kebanyakan adalah anak-anak umur “twenty-something”, banyak juga yang kelihatan lebih tua dan lebih serius.
Topik-topik presentasi mencakup masalah teknis WordPress sampai ke aspek-aspek sosial dari blogging. Memang acaranya sengaja mencampur para penulis blog dengan para programmer WordPress. Contohnya, sesudah presentasi teknis mengenai PodPress (yaitu cara podcasting di WordPress menggunakan plugin) ada presentasi diskusi antara John Dvorak (kolumnis terkenal majalah PC World) dan Om Malik (penulis majalah Business2.0).
Diskusi Dvorak dan Om Malik cukup berkesan, sebab mereka betul-betul serius mengenai blogging dan Internet media. Yang menjadi diskusi panggung adalah dampak blogging pada industri media saat ini (PS. Majalah Business2.0 hampir bangkrut dan Forbes sebentar lagi mungkin akan tutup). Sekarang ini pemasukan bagi koran harian dan majalah-majalah menyusut sekali karena jumlah iklan/advertising di media cetak menurun (NB. Turun hampir 30% selama 2 tahun belakang ini). Yang menjadi inti diskusi mereka adalah pertanyaan berikut: apakah seorang blogger merupakan juga seorang jurnalis?
Dvorak menjelaskan suatu konsep yang menarik, yaitu citizen journalist (terjemah: “jurnalis warga”). Artinya, setiap citizen/warga menjadi jurnalis sendiri dan memegang tanggung jawab untuk melaporkan fakta/berita dengan tingkat profesionalisme seperti jurnalis media. Dvorak juga mengajukan konsep-konsep Old Media (Media Lama, seperti media cetak) dan New Media (Media Baru, seperti blogging di Internet). Sekarang ini dunia sedang dalam transisi dari Media Lama ke Media Baru (dan banyak institusi yang terkena dampak dan efek transisi ini).
Salah satu presentasi lainnya yang mendapat atensi adalah mengenai “penguangan” (monetization) blog. Sang presenter mengundang 3 orang hadirin untuk ke panggung untuk mendiskusi berbagai pertanyaan: dari Google AdSense sampai ke hal moralitas memasang iklan di blog. Hadirin pertama (pria) sedang membangun service untuk social networking. Dua hadirin lainnya (wanita) masing-masing memiliki blog yang berhubungan dengan profesi mereka (satunya ahli finance dunia hedge-funds dan satunya dagang properti holiday di Canada). Yang dua wanita sudah memasang iklan di blog mereka, tapi menurut mereka sering tidak tepat dengan konten blog (ex. blog mereka ttg duit hedge-fund, tapi iklan yang muncul ttg binatang piaraan). Jadi, memang masih perlu sistim iklan blog yang lebih canggih dan mengerti jenis pembaca blog.
Saatnya coffee break, saya mampir ke belakang panggung untuk ngobrol sebentar dengan Matt Mullenweg (pencipta WordPress). Masih muda, nggak lebih 30 tahun. Karena sudah biasa kena sorot media, dia cukup santai dan profesional dalam menerima tamu. Saya tanya soal support Bahasa Indonesia di WordPress.com. Dia ketawa lebar: katanya dia heran kok banyak sekali blogger-blogger dari Indonesia. Rupanya kalau dilihat statistik traffic yang mengakses WordPress.com, source IP address dari Indonesia banyak sekali. Saya jelaskan, bahwa ini mungkin karena WordPress.com ada interface dalam Bahasa Indonesia (dari 12 bahasa). Jadi memudahkan bagi orang yang nggak suka bahasa Inggris.
Sesudah makan siang (Subway sandwich + air putih) seorang nenek-nenek duduk di kursi kosong sebelah saya. Agak kaget juga – lho kok tua-tua begini mau muncul ke acara seperti begini. Iseng-iseng saya ajak ngobrol juga. Rupanya beliau seorang investor dalam perusahaan software yang ingin menjual eksklusif melalui Internet. Dia hadir agar supaya lebih mengerti perkembangan blog dan cara penggunaan blog sebagai sarana pemasaran produk2. Hebat juga deh: rambut sudah putih, umur hampir 70an, tapi semangat seperti “twenty-something”
Bagi rekan-rekan yang ingin mendapat detil setial presentasi, bisa dilihat di situs Patrick Havens, yang rupanya rajin menangkap butir-butir dari setiap presentasi.
Dilihat dari semangat dan tingkat diskusi yang serius, WordCamp 2007 bisa disebut sukses. Kriteria utama bagi setiap hadirin adalah untuk belajar sesuatu yang baru (to learn something), apa itu informasi teknis, marketing atau arah/direksi dunia social networking. Memang perkembangan social networking masih dini, seperti perkembangan IP Internet di awal tahun 1980an (bisa FTP, UUCP atau email saja sudah puas). Jadi, dua-puluh tahun lagi mungkin social networking akan mencapai suatu titik dimana bentuknya sama sekali berbeda dari sekarang.



4 People have left comments on this post
It’s interesting to note that Indonesian bloggers are banyak di WP and the whole blogosphere. Well, I think it’s amazing because of the digital divide, bad Internet connection (even Speedy is not that speedy enough), and poor writing education. Indo has 20 million Internet users and approx. 30,000 active blogs, it’s only a very tiny fraction of 250 million total population.
Too bad many print magazines are gulung tikar nowadays, but we still need conventional publications because they are the spine of voices of reason regulated by professional ethics. (I have written an article about this issue and will be published in JP soon.)
Mbak Jennie, yes its interesting that so many Indonesians are blogging. Perhaps it has something to do with the new-found freedom of expression.
I don’t think print media will go away anytime soon. Its just that the print industry needs to stop producing thousands of new magazines every year. There’s just too much too read and people are too just too busy
Many tech “rag” magazines are in the process of going away though…
One thing left for Indonesian bloggers to enjoy is the speed. We need better internet connection. Indonesian government should think this more seriously if we don’t want to be left behind.
@Barry, yes, I agree. We’re in the 21st century and Indo is the 4th most populous country in the world. Yet, the digital divide is too wide.