Susahnya bisnis VoIP (SunRocket gugur)

Hari ini ada berita mengejutkan: perusahaan start-up SunRocket akan tutup (alias bangkrut). Di pasaran AS, SunRocket menduduki posisi kedua sesudah Vonage.  Kedua-duanya adalah perusahaan yang memberikan jasa Voice-over-IP (VoIP), yang membutuhkan pihak konsumen untuk sudah memiliki koneksi Internet tingkat DSL atau CableModem.

SunRocket sendiri sudah memiliki sejumlah 200,000 peminat. Tawarannya adalah satu harga (USD$199 per tahun) untuk “unlimited call” (i.e. telepon lokal dan interlokal tak terbatas). Kebanyakan orang memilih servis VoIP yang terpisah dari servis Internet dan TV kabel karena mereka enggan membeli “bundle” (paket) Internet-TV-VoIP yang ditawarkan pihak perusahaan TV Kabel.  Contohnya, ATT dan ComCast terakhir ini gencar sekali memasarkan “bundle” tersebut (ex. iklan di TV, di Internet dan di kotak pos).

SunRocket sebelumnya sudah berhasil mendapat VC funding sebanyak USD$60M pada pembukaan, yang ditambah lagi USD$30M tahun lalu. Rupanya, “burn-rate” (i.e. tingkat habisnya) duit VC ini jauh lebih cepat dibanding pemasukan (revenue). SunRocket berhasil meraih 166,000 customer hanya dalam kwartal pertama tahun ini (2007Q1), dan mencapai jumlah 200,000 peminat pada bulan April. Sayangnya, jumlah peminat sebanyak ini tetap tidak cukup untuk menjamin keberlangsungan perusahaan SunRocket. Perusahaan Vonage sendiri sudah memiliki 2 Juta pembeli service, tetapi masih kewalahan (harga sahamnya sudah jatuh dibawah $3).

IMHO, gugurnya SunRocket membangkitkan pertanyaan2 serius mengenai viabilitas VoIP sebagai pengganti telekom tradisional:

  • Quality-of-Service: Kualitas dari VoIP sering tidak stabil karena berbagai hal teknis. Inti/core dari hal-hal teknis ini adalah karena Internet IP adalah connectionless network. Artinya, paket2 IP tidak memiliki jalur pengiriman (delivery path) yang sama dan pada kecepatan (delivery rate) yang sama. Yah, memang begitulah definisi connectionless network.  Sistem telekom yang tradisional menggunakan teknik connection network dimana hubungan antara caller dan callee sudah tersedia pada saat off-hook dan nomor telepon diputar.
  • Network control: Pada dasarnya perusahaan VoIP tidak memiliki jaringannya sendiri. Mereka tergantung atas service provider IP, yaitu pihak DSL atau Cable yang merupakan kompetitor. Agak sulit untuk sukses kalau ada ketergantungan inti. Sedangkan telekom tradisional memiliki control-network sendiri (ex. SS7 network).
  • Regulasi: Pihak pemerintah AS melalui badan FCC tidak meregulasi industri VoIP. Secara historis FCC hanya melakukan regulasi atas industri telekom. Dengan kata lain, perusahaan VoIP tidak bisa minta tolong FCC untuk membuat “level playing field” terhadap perusahaan2 DSL atau Cable.
  • Saturasi: Pada dasarnya, industri voice-call di AS sudah mencapai titik saturasi. Harga voice-call dari San Francisco ke New York dapat dihitung dalam ukuran sen (cents) per menit. Itu sebabnya perusahaan telekom ingin pindah ke 3G dan 4G yang dapat memberikan servis2 lainnya (eg. voice, video, mail).

Bagi para peminat VoIP di Indonesia (ex. VoIP Rakyat), ada baiknya mempelajari dengan seksama pengalaman SunRocket dan Vonage. Ada baiknya pihak swasta dan pemerintah bekerja sama untuk melakukan “leap frog” (loncat kedepan) dalam pemilihan teknologi infrastruktur (i.e. pilih teknologi infrastruktur terbaru). Fokus lebih baik diarahkan kepada pembangunan infrastruktur broadband-wireless (i.e. WiMax atau DO) untuk konsumen statis (non-mobile) dan 3G/4G untuk konsumen yang mobile (i.e. pakai handset atau PDA).

Perlu diperhatikan bahwa broadband-wireless dan 3G/4G tidak bertentangan (kompetisi), melainkan saling komplemen. Sering kali para pemain industri telekom merasa terancam dengan adanya broadband-wireless, dan lalu menjelek-jelekan teknologi broadband-wireless. Padahal suatu Negara Membangun membutuhkan kedua-duanya. Tapi ini hanya opini saya :)

One Person has left comments on this post



» titin said: { Aug 1, 2007 - 09:08:08 }

saya masih baru dalam marketing voip, mohon saran dan strategi jitu untuk mengenalkan produk voip ke masyarakat.
terima kasih
titin hasanah