Monopoli visa H1B oleh perusahaan India

Kemarin Business Week (BW) menayangkan artikel menarik mengenai persentase jumlah H1B visa yang di ambil perusahaan2 yang berpusat di India. Rupanya dua orang Senator telah mengirim surat formal ke 9 perusahaan teknologi informasi (TI) raksasa di India, mempertanyakan penggunaan visa H1B tersebut.

Secara historis Visa jenis H1B diadakan oleh pemerintah AS bagi perusahaan- perusahaan AS untuk merekrut pekerja-pekerja yang jenis keahliannya dibutuhkan oleh perusahaan di AS. Sebuah perusahaan harus memasukkan permintaan untuk visa H1B bagi calon pekerja yang disponsori perusahaan tersebut. Setiap tahun (terutama 3 tahun belakangan ini) jumlah visa H1B adalah 65,000 lembar. Setiap tahun, biasanya visa-visa tersebut habis dalam masa 2 bulan sampai 6 bulan (rata-rata).

Setelah mendapat visa H1B, pekerja boleh mengajukan permohonan untuk mendapat Green Card, yaitu residensi permanen (permanent residence) di AS. Dengan demikian (menurut perancang programa visa H1B) para pekerja akan menetap di AS setidaknya beberapa tahun dan membantu perkembangan ekonomi AS. Program seperti ini juga dilaksanakan oleh berbagai negara lainnya, seperti Inggris dan Australia.

Rupanya tujuan program visa H1B agak disalah-gunakan oleh beberapa perusahaan bidang TI dari India. Data tahun 2006 menunjukkan bahwa Infosys Technologies (INFY) dan Wipro (WIT) masing-masing mencaplok 22,600 dan 19,400 lembar visa H1B (hampir 30% total visa H1B). Pencaplokan ini dilaksanakan melalui cabang perusahaan mereka di AS. Dengan kata lain, visa-visa tersebut bukan di gunakan oleh perusahaan AS untuk merekrut para ahli, melainkan digunakan oleh perusahaan India untuk “memutar” (cycle) pekerja TI dari India ke AS, dan kembali lagi ke India. Jadi seakan pekerja India (dari 9 perusahaan ini) mendapat “work experience” untuk 3 tahun s/d 6 tahun di AS. Bagus untuk perusahaan India dan ekonomi India, tapi kurang baik (bagi ekonomi AS) di mata beberapa Senator di AS.

Isu visa H1B ini memang lagi “hot” terutama setelah “Internet Crash” tahun 2001 kemarin yang disusul oleh isu “outsourcing” pekerjaan TI ke India dan China. Ada dua kubu dalam argumen ini. Satu pihak berpendapat visa H1B hanya merampas pekerjaan dari orang Amerika demi pekerja imigran. Pihak lainnya menyatakan bahwa imigrasi pekerja berkeahlian baik bagi ekonomi AS, dan jumlah visa H1B pertahunnya masih kurang. Bill Gates sendiri terakhir ini menyatakan bahwa visa H1B kurang jumlahnya. Demikian pula pernyataan dari beberapa perusahaan bidang TI seperti Microsoft, HP, Motorola dan Sun Microsystems. Ulah dari ke 9 perusahaan India ini akan mempertajam debat visa H1B, yang mungkin akan mempersulit pekerja-pekerja TI dari negara lainnya yang ingin pindah ke AS.

IMHO, program visa H1B ini penting bagi anak-anak Indonesia, sebab keahlian yang dicapai di dunia TI di AS kelak dapat berguna bagi perkembangan TI di Indonesia. Berita mengenai Infosys dan Wipro yang memakan 30% visa H1B menunjukkan betapa pentingnya visa jenis ini dan betapa gencarnya tingkat kompetisi.

8 People have left comments on this post



» BARRY said: { May 17, 2007 - 02:05:38 }

Jika angka 30% yang diberitakan BW memang benar, maka hal yang diceritakan diatas memberikan gambaran jelas bagaimana India betul-betul melihat kemajuan ekonomi mereka 2-3 langkah ke depan.

Bagaimanapun pandainya orang-orang India, atau bangsa lain yang berkecimpung di bidang IT, keberadaan mereka di Amerika untuk berlatih dan memakai fasilitas yang hanya bisa didapat di Amerika merupakan kesempatan emas yang sangat sulit untuk didapat. (Seperti contoh memakai fasilitas yang sudah mapan: AT&T Labs, Alcatel-Lucent, Motorola, dsb)

Saya jadi curiga bagaimana perusahaan yang disebut diatas bisa “mencaplok” 30% dari total yang diberikan kepada seluruh aplikan. Pasti untuk mendapatkan angka yang besar tersebut dipakai celah-celah hukum yang hanya perusahaan multinasional yang tahu atau mendapatkan prioritas.

» Hardjono said: { May 17, 2007 - 09:05:41 }

Hi Barry. Tahun 2007 ini visa H1B habis ter-klaim dalam 2 hari. This is record. Perusahaan2 ini menggunakan “front-shop” atau cabang di AS untuk memasukkan application.

(PS. Pak Barry, I often visit basa-basi.com but unable to leave a comment because the visual verification characters are unreadable. i.e. the page fails to download the characters).

» Roy said: { May 17, 2007 - 09:05:17 }

Saya setuju bahwa H1B visa itu penting bagi orang orang Indonesia. Tetapi yang saya perhatiin, hampir 50% dari orang orang Indonesia yang dapat H1B ngga pada mau pulang tuh. Udah enak kerja di US dengan gaji dollar, mereka pikir ngapain juga pulang ke Indonesia dan mendapatkan gaji rupiah. Akhirnya, menurut saya yang ada H1B visa malahan banyak memberikan kerugian untuk IT Indonesia soalnya banyak akhli2 yang lari keluar negeri.

» Hardjono said: { May 17, 2007 - 10:05:38 }

Pak Roy, kalau lihat trend orang India di AS, banyak yang pulang lagi ke India (termasuk mereka2 yang punya PhD dan Masters bidang CS dan EE). Dari rekan2 India yang saya kenal (kira-kira 10+ orang yang pernah kolaborasi dekat), sudah 4 orang yang pulang. Padahal mereka ada yang sudah 15 tahun lebih hidup di AS. Yang lainnya *semua* bilang akan pulang (sometime in the future). Mereka sadar kalau ke India gajinya bukan lagi Dollar, tapi masing2 ingin menjadi enterprenur. Di India sendiri ada kultur enterprenur, dan suasana ekonomi dan hukung ikut mendukung.

Malah, kemarin teman dekat saya pulang holiday ke India, sekaligus check-out bisnis ISP Dial-Up dan DSL. Katanya sudah ada 4 ISP DSL di hometown dia, tetapi nggak gentar :)

Anak2 Indonesia nggak pulang mungkin karena belum ada kultur enterprenur di RI, dan suasana ekonomi dan hukung kurang mendukung. Data statistik mengenai anak2 Indonesia yang mendapat H1B belum ada rupanya. Jadi susah nich untuk mendapat gambaran yang lebih konkrit.

» latifa said: { Mar 22, 2008 - 03:03:47 }

tolong, sayang sedang tugas akhir. saya mahasiswi HUbungan Internasional.
saya ambil tema kebangkitan TI india dan China dan ancaman bagi AS, saya mohon pada anda untuk dibantu. terimakasih

» latifa said: { Mar 22, 2008 - 03:03:43 }

saya mohon sekali, juni saya sudah minim sekali data, saya sudah berkeliling, mungkin anda ounya rekomendasi khusus perkembangan IT india. saya harus kemana

» Hardjono said: { Mar 24, 2008 - 06:03:15 }

@Latifa, saya rasa topik India/China dan AS dapat di cari pada majalah The Economist dan BusinessWeek. Kalau Economist lebih internasional.

» cooking classes recreational said: { Jul 27, 2008 - 06:07:07 }

cooking classes san kids classes cooking