Texas Instruments menanamkan $1 Billion di Filipina

 

Hari ini Texas Instruments (TI) menyatakan akan menanamkan sebanyak AS$1 Billion ($1,000,000,000) di Filipina untuk memperbesar daya assembly/test milik TI. Luas plant ini adalah sekitar 77,000 meter persegi dan akan menciptakan sejumlah 3,000 perkerjaan baru. Konstruksi akan dimulai pada 2H2007, dengan produksi mulai meluncur 1H2008.

Lokasi TI ini berada di dalam daerah Clark Special Economic Zone (CSEZ) yang merupakan pusat atau “hub” untuk berbagai usaha baru. CSEZ ini dulunya merupakan Clark Air Force Base yang digunakan oleh angkatan udara AS dari tahun 1903-1991, dan memegang peran penting dari segi logistik ketika masa perang Vietnam. Setelah pasukan AS meninggalkan Filipina pada tahun 1992, daerah tersebut di rubah statusnya menjadi Special Economic Zone. Luas daerah CSEZ ini lebih dari 28,000 hektar, yaitu hampir sebesar luas negara Singapura. Lokasinya kira2 sejam setengah dari Metro Manila.

Yang menarik, TI memutuskan untuk Go Green di lokasi baru ini dengan menggunakan LEED Green Building Rating System. Semua bahan konstruksi bersifat pro-lingkungan, termasuk juga sistim penggunaan air dan listrik yang efisien.

Bagi saya, pertanyaan yang utama adalah kenapa Indonesia tidak masuk dalam perhitungan perusahaan2 “tech” di AS, Jepang dan Asia dalam perencanaan global mereka. Apakah Bangsa Indonesia dan Pemerintah RI kurang menaruh perhatian atas isu-isu sekitar penarikan investor ke tanah air:

  • Indonesia kurang menarik bagi investor asing?
  • Jumlah pekerja industri teknologi informasi kurang sesuai dan kurang banyak?
  • Kurang bisa berbahasa Inggris?
  • Tingkat KKN terlalu tinggi?
  • Tingkat ROI dari invesment kurang tinggi?
  • Negara kurang stabil?

Hmm, kenapa yach… ?

3 People have left comments on this post



» Ibrahim said: { May 3, 2007 - 04:05:15 }

Setahu saya sih karena banyak uang siluman. Padahal kalau perusahaan US/euro, mereka dilarang melakukan praktek penyuapan di luar negri. Buruh di Indo beda dengan buruh di negara lain dimana ada kepastian uang PHK, sedangkan buruh diluar nggak perlu uang phk. Buruh di Indo juga sering demo (setelah reformasi).
Setahu saya setelah ada BKPM http://www.bkpm.go.id/ udah ada kemajuan lho. Di beberapa daerah pengurusan untuk investasi mendirikan pabrik sudah dalam satu atap dan biaya2-nya distate, dan ada kamera yang merekam. Tapi ya banyak sekali daerah yang masih menerapkan pungli.

» Hardjono said: { May 16, 2007 - 12:05:17 }

Iya nih, bagi perusahaan asing sulit kalau 10% s/d 30% investasi harus digunakan untuk duit “pelicin” :) Padahal investasi menciptakan perkerjaan2.

» Dny said: { Feb 18, 2008 - 09:02:31 }

ada yang tahu mengenai Profil Perusahaan Texas Instrumen (detail).. makasih