Sekolah2 di AS juga miskin lho… (OLPC)

Rupanya organisasi non-profit dibelakang proyek One Laptop per Child (OLPC) baru-baru ini melakukan perubahan pikiran. Proyek OLPC ini di mulai oleh Prof. Nicholas Negroponte dari MIT (Boston), dan bertujuan untuk memproduksi laptop di bawah harga USD$100. Tujuan ini hampir kena, dengan harga laptop kira-kira $150.

Ada beberapa aspek dari laptop XO Notebook murah tersebut yang menarik:

  • Hanya makan listrik 2 watt (laptop biasanya makan 30 s/d 40 watt).
  • Storage menggunakan Flash Memory (daripada hard-disk).
  • OS nya Linux open source.
  • Mengisi baterai laptop dengan suatu kaitan putaran (pull-string). Satu menit putaran menghasilkan listrik untuk 10 menit.
  • 4 USB port.
  • Keyboard bisa untuk berbagai bahasa.
  • Digital videocam.
  • Wireless 802.11.
  • Layar berubah menjadi hitam-putih kalau dibawa keluar rumah (di bawah matahari).

Pada mulanya XO laptop ini ditujukan untuk sekolah-sekolah miskin di negara berkembang. Minggu ini ada diskusi untuk menjual XO laptop tersebut ke sekolah-sekolah miskin di AS. Sudah ada 19 gubernur propinsi di AS yang menunjukkan keinginan membeli laptop2 OLPC. Kalau di jual di AS, harganya akan dinaikkan menjadi $175 (kurang lebih).

Bulan Februari kemarin beberapa trial/testing telah dimulai di Brazil, Nigeria, Argentina, Uruguay, Pakistan, Thailand, Libya dan beberapa negara lainnya. Menurut direktur proyek, testing lumayan sukses.

Dari segi produksi, laptop OLPC tersebut akan di manufaktur mulai September 2007 oleh sebuah perusahaan Taiwan. Agar tidak rugi, proyek tersebut harus menerima sedikitnya 3 juta unit pesanan. Sampai sekarang, sudah mendapat 2.5 juta pesanan.

Mungkin anggota DPR dan MPR bisa lebih prihatin, menggunakan XO laptop saja J

2 People have left comments on this post



» Oskar Syahbana said: { Apr 27, 2007 - 09:04:07 }

Aneh kenapa proyek ini tampaknya besar sekali padahal saat ini sudah banyak produsen laptop yang bisa memproduksi laptop dengan harga pas US$100 (tanpa margin ya) dengan spesifikasi yang jauh lebih bagus dibandingkan OMPC…

It’s a noble idea, but overly exaggerated

Plus it’s been like what, 2 years with no completion yet?

» Hardjono said: { Apr 27, 2007 - 03:04:42 }

Pak Oskar, yang sulit bukan harganya tapi spesifikasi hardware dan software. Khan di Afrika sering nggak ada listrik. Hard-drive terlalu makan listrik untuk spin-up/down. OS nya nggak bisa Windows. Plus, sekali laptop itu out-in-the-field sukar sekali mendapat support. Dan harus tahan banting :)