Berapa H1B Visa ke anak Indonesia
Bagi banyak orang yang bekerja di dunia IT, impian adalah untuk bekerja di AS, terutama di perusahaan “tech†seperti Google, Yahoo, Microsoft dan IBM. Bagi orang yang berasal dari luar AS, salah satu jalan utama adalah melalui visa H1B. Visa ini memberi izin kerja bagi warga asing di AS selama 3 sampai 6 tahun. Pihak perusahaan harus mengajukan permintaan H1B visa untuk pekerja Information Technology (IT) dari luar AS.
Ketika masa “tech boomâ€, yaitu kira-kira tahun 1996-2001, puluhan ribu pendatang baru masuk ke AS menggunakan visa H1B ini. Setiap tahun jumlah visa H1B yang diterbitkan pemerintah AS terus menanjak. Dari tahun 2001 sampai 2003, jumlah visa H1B yang diadakan sejumlah 195,000 lembar per tahun. Pada tahun 2004 Kongress AS menurunkan jumlah visa ini menjadi 65,000 lembar atas dasar kondisi ekonomi AS yang lemah dan kritik2 atas politisi. Pada tahun 2005 sejumlah 20,000 ekstra visa dikeluarkan karena permintaan dari sektor bisnis IT.
Tahun 2007, visa H1B yang tersedia bulan April ini sebanyak 65,000 lembar habis dalam waktu 2 hari. Sejumlah 135,000 permohonan diterima oleh departemen imigrasi AS. Biasanya visa H1B habis dalam masa 3 bulan sampai 6 bulan. Tahun 2007 ini merupakan masa habis tercepat dalam sejarah visa H1B ini. Hampir semua permohonan bersal dari perusahaan di industri IT.
Banyak rekan saya dari India dan China yang datang ke AS melalui program H1B visa. Boleh juga mereka disebut sebagai Crème de la Crème orang IT dari negara mereka. Banyak di antara mereka yang tinggal beberapa tahun di AS, tetapi banyak juga yang ingin nantinya pulang ke tanah air masing2 demi membangun industri IT di negara sendiri. Dengan kata lain, istilah Brain Drain yang tadinya dikhawatirkan pemerintah India dan China sebenarnya berdampak positif secara jangka lama. Pengalaman bekerja di industri IT di Amerika Serikat merupakan pengalam dan bekal hidup profesional yang berharga sekali. Tingginya jumlah visa ke tangan orang India dan China merupakan indikator krusial mengenai kualitas universitas2 dan mahasiswa2 di negara tersebut.
Kemudian saya bertanya pada diri sendiri: dari 65,000 lembar H1B visa berapa persen jatuh ke tangan anak Indonesia? Apakah ada usaha konkret di Indonesia – terutama dari pihak swasta – untuk membina pendidikan dan industri IT sampai setaraf India dan China. Apakah Indonesia yang berpenduduk 300 juta orang lebih akan kalah terus dengan negara2 kecil (seperti Selandia Baru, Findlandia, Swedia) yang penduduknya dibawah 5 juta orang tetapi dimana industri IT maju pesat. Apa takarannya?



4 People have left comments on this post
Hihi bukan hanya yang bekerja di bidang IT mas, tapi juga di bidang finance
value konkretnya berapa ni?
@alisyah, value-nya tergantung value tenaga IT dan CIT untuk tanah air
1 Trackback(s)